Tampilkan postingan dengan label Book recommended. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book recommended. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2009

Para priyayi


Sebuah buku karya Umar kayam
Salah satu penulis besar dinegeri ini yang dilahirkan di Ngawi,menulis tentang kehidupan sosial yang ada dimasyarakat jawa semasa kolonial. Kata priyayi disematkan bagi mereka yang memiliki status strata sosial penting dalam masyarakat serta dipandang agung.

Didalam buku ini juga digambarkan bagaimana seorang yang lahir dari anak seorang petani tulen yang dengan gigih berjuang untuk mendapatkan kehidupan lebih baik,dan yang pasti meningkatkan derajat kelas sebagai seorang priyayi. Dan itu diturunkan kepada keluarga meraka untuk lebih memaknai apa itu priyayi. Apakah Priyayi hanya sekedar status strata sosial,sekedar kasta ataupun lebih kepada pemikiran yang mencerminkan sebagai seorang priyayi.

Disini juga diuji apakah kita yang termasuk turunan priyayi sudah mempunyai pemikiran sebagai seorang priyayi. Kita sendiri yang bisa merasakan sejauh mana pemahaman kita memaknainya.

Dimulai oleh Sastrodarsono yang sebagai guru pada waktu itu membangun sebuah keluarga priyayi yang diusahakannya,karena dia tahu bahwa ia hanya turunan seorang petani. Dia juga membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk merubah sebuah kehidupan jika kita mampu berusaha dan mewujudkannya.
Silahkan dibaca....

Glonggong


Glonggong...

Kalau dalam bahasa indonesia disebut dengan pelepah daun pepaya, dalam bahasa jawa disebut glonggong. Jaman dahulu glonggong digunakan sebagai permainan yang menarik bagi anak-anak waktu itu sebagai replika pedang yang dibuat untuk bertarung. Tidak tahu apakah jaman sekarang masih terdapat permainan rakyat seperti ini. Seiring perkembangan sekarang anak-anak sudah dimanjakan berbagai permainan yang lebih modern,yang tidak menuntut mereka untuk kreatif dan juga berusaha.

Seperti yang diceritakan dalam buku ini,Glonggong yang bukan semata permainan biasa. Ada filosofi yang terkandung dibalik permainan ini. Semisal sebelum memulai permainan sebagai pemain harus berusaha mencari glonggong sendiri dengan memanjat pepaya serta memilih glonggong yang daunnya agak menguning. Kenapa?dengan daun menguning bukan hijau berarti glonggong tersebut sudah mulai keras dan lentur sehingga tidak mudah rusak atau patah jika dibuat beradu tanding dengan pemain yang lain. Itu menandakan jika kita memulai sesuatu kita harus ada usaha yang keras dan sungguh sehingga mampu mencapai tujuan kita,seperti halnya dalam memilih glonggong tadi.

Didalam buku ini yang mempunyai setting waktu jaman perlawanan pangeran Diponegoro melawan pemerintah Hindia Belanda yang lebih dikenal dengan perang Jawa. Diceritakan seorang anak kecil yang gemar bermain glonggong dan selalu menjadi pemenang sehingga dijuluki pendekar glonggong sampai waktu dewasa. Dan dengan ketangkasannya waktu itu dia mendapat tugas mulia sebagai pengawal logistic bagi pasukan perjuangan Pangeran Diponegoro. Dan senjatanya pun dia tidak berubah,tetap menggunakan glonggong tapi bukan glonggong beneran tapi glonggong tiruan yang menyerupai yang terbuat dari kayu khusus buatan Empu yang tersohor.

Disini juga banyak protes sosial dari kalangan atas atau biasa disebut dengan para Priyayi pada jaman waktu itu. Mulai dari kebiasaan main perempuan, berjudi ataupun perlakuan terhadap para istri yang sekiranya sudah tidak diinginkan lagi sehingga diusir dari rumah utama dan digantikan posisi dengan istri baru yang lebih muda dan lebih dalam memuaskan nafsu para priyayi tersebut. Sikap para priyayi inilah utamanya para punggawa kerajaan Mataram waktu itu yang membuat Raden Mas Ontowiryo atau lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro menyingkir dari dunia keraton yang hingar bingar tersebut. Ditambah lagi dengan intervensi dari pihak Belanda yang seolah menguasai semua kebijakan keraton. Yang mana semua kebijakan itu tidak ada yang pro terhadap rakyat miskin. Dan dengan itulah yang mendasari pergerakan Pasukan Diponegoro yang didukung masyarakat kecil melawan ketidak adilan.

Minggu, 18 Januari 2009

Bumi manusia

Novel : Bumi Manusia
Karya : Parmoedya Ananta Toer

Bumi Manusia adalah Buku pertama dari Tetralogi Buru, ditulis saat Pram mendekam dan diasingkan pemerintah dipulau Buru . Sebuah pulau bagi tahanan politik semasa orde baru berkuasa dan tanpa melalui process peradilan.
Buku ini menceritakan seorang tokoh muda bernama Minke yang merupakan anak dari seorang Bupati yang bersekalah di H.B.S Surabaya. H.B.S adalah sekolah milik kolonial Hindia Belanda yang sederajat dengan SMU jaman sekarang.Setting cerita ini ada di daerah Surabaya tepatnya di Wonokromo pada tahun akhir 1899 atau memasuki tahun awal 1900 an. Minke yang diceritakan pram adalah RM. tirto adhi yang merupakan Bapak jurnalis/wartawan pertama dari golongan Pribumi waktu itu.
Semasa menempuh proses belajar mengajar dia tinggal dirumah seoarng Nyai kaya raya yang mempunyai sebuah perusahaan pertenakan dan sawah besar didaerah wonokromo. Nyai tersebut adalah seorang pribumi yang diambil dari kedua orang tuanya dan diperistri oleh seorang administratur Belanda bernama Herman Melemma. Nyai tersebut bernama Nyai Ontosoroh yang mempunyai 2 orang anak dari hasil perkawinan yang tidak pernah sah menurut hukum pemerintah Hindia Belanda hanya karena Nyai Ontosoroh seorang pribumi.
Nyai Ontosoroh adalah seorang Pribumi yang berjiwa teguh dan berpandangan eropa,berbeda dengan Nyai2 lain dan kebanyakan wanita pribumi lain yang tidak berani menyerukan hak2nya sebagai seorang manusia yang terlahir di Bumi Manusia. Dia Belajar Secara otodidak dari suaminya sendiri tentang segala hal yang Eropa mulai hukum dan kegiatan administratif Belanda.Dengan demikian dia berkembang menjadi seorang Wanita Pribumi yang berani dan tangguh menghadapi berbagai tantangan. Dan secara tidak lansung Minke banyak belajar dari tokoh ini.
Minke sendiri selain aktif belajar juga sering menulis dikoran Lokal berbahasa Belanda dengan nama Max Tonellar. Dari berbagai tulisannya ,dia banyak mengkritik pemerintahan Hindia Belanda saat itu karena tidak pernah memberi ruang hukum bagi kaum pribumi. Hukum waktu itu masih mendeskriditkan ras dalam segala hal, urutan pertama adalah Totok(Eropa tulen), yang kedua Indo(keturunan Eropa-Pribumi), dan yang terkhir Pribumi.
Dengan kerja keras dan disiplin belajar yang tinggi Minke berhasil menjadi lulusan terbaik siswa HBS Surabaya dan menjadin Lulusan terbaik kedua seluruh HBS di Hindia Belanda. Dengan keberhasilan tersebut seolah menampar pemerintah Hindia Belanda waktu bahwa seorang siswa dari bangsa Pribumi mampu mengalahkan Siswa2 yang lain yang mayoritas Belanda.
Dan dari berbagai tulisan Minke di berbagai koran 2 Belanda yang sangat menyerukan sebuah arti apa itu Humanisme , sebuah persamaan Hak 2 Pribumi dimuka hukum dan perlakuan adil bagi sesama bangsa Kolonial yang Bernama Hindia Belanda.Dan dari sinilah dimulai dan diawali berbagi pergerakan Nasional yang pada intinya kemerdekaan dan persamaan hak.

Selasa, 07 Oktober 2008

Rahasia Meede



Judul Buku : Rahasia Meede

Pengarang : E.S ITO


Rahasia Meede adalah Novel Karya ES ITO yang membahas tentang misteri harta karun peninggalan VOC yang terpendam di bumi Batavia/Jakarta. Novel ini menceritakan misteri perburuan harta karun yang dibuat dengan fakta yang kuat digabung dengan fiksi yang menuntun kita untuk berfikir dan bertanya-tanya disetiap ceritanya. Novel misteri yang digabung antara fiksi dan didasari fakta yang kuat sesuai perkembangan novel sastra modern dunia yang ada sekarang.
Di novel ini diceritakan bagaimana sejarah bangsa kita mulai jaman masuknya VOC dan berbagai intrik yang terjadi dalam tubuh Syarikat dagang terbesar yang ada pada jaman itu. Pengarang juga membeberkan berbagai sejarah VOC dan berbagai kekayaan VOC yang ditinggalkan dan terkubur di bumi Indonesia.

Senin, 06 Oktober 2008

Arok - Dedes

Judul : Arok-Dedes

Karya : Pramudya Ananta Toer

Arok-Dedes adalah sebuah roman sejarah yang terjadi pada jaman leluhur kita terutama untuk yang tinggal dijawa pasti mengerti kisah / cerita ini.

Oleh Pram kita diajak mengenang kembali cerita masa lalu yang disampaikan secara gamblang dengan gaya bahasa dan gaya penyampaian khas pram. Disini Pram menceritakan kisah pemberontakan dan penggulingan kekuasaan atau istilah sekarang keren disebut ‘kudeta’, yang pertama kali terjadi dijawa atau mungkin yang pertama kali di bumi indonesia yang tercatat dalam peninggalan sejarah atau sebuah prasasti.
Sebelum
membaca buku ini saya sudah sering mendengar cerita kenArok-Kendedes yang saya peroleh dari cerita yang disampaikan dalam pertunjukan ketoprak bahkan sebuah film pun waktu kecil aku juga pernah menontonya. Dalam pelajaran sejarah pun juga disampaikan waktu aku duduk di bangku SMP tentang kerajaan Hindu-Budha lengkap dengan Raja-raja yang terkenal dan peninggalan yang paling masyur. Dan dari situ semua aku ketahui bahwa ken Arok dilukiskan Seorang Pemuda dari kaum sudra yang mengejar cita – cita menjadi seorang raja dengan cara2 yang licik. Dan anggapan saya pun Ken Dedes diperistri oleh ken Arok karena Suami pertama ken Dedes yaitu Tunggul ametung telah meninggal dunia yang telah dibunuh ken Arok menggunakan sebuah keris Empu Gandring yang disini diceritakan keris ini mempunyai kesaktian yang dahsyat. Pokoknya bisa ditarik kesimpulan kayak gini:

  1. Ken Arok membunuh Empu Gandring dengan keris miliknya sendiri yang dinamai keris Empu Gandring
  2. Ken Arok Menipu Kebo Ijo Supaya kasus pembunuhan Tunggul ametung terlihat yang melakukan kebo Ijo ,karena sehari sebelum pembunuhan kebo ijo memamerkan keris empu gandring yang dipinjamkan oleh ken Arok.
  3. Ken Arok membunuh sang pemilik keris yaitu Empu Gandring dan dari sini muncul mitos tentang kutukan Empu Gandring terhadap Ken Arok beserta keturunanya sampai tujuh turunan
  4. Ken Arok mempersitri Ken Dedes yang cantik karena ditinggal oleh suami pertamanya tunggul ametung.

Dari berbekal pengetahuan yang secuil itu saya mencoba untuk membaca buku ini, dan apa yang aku dapatkan dari buku ini ? aku mendapatkan sesuatu hal yang berbeda yang disampaikan oleh pram melalui buku ini. Saat kita membaca kita serasa dibawa oleh pram menjelajahi abad 12 dengan gaya penyampaian yang lugas dan tegas.

Dibuku ini nama Arok adalah pemberian dari seorang brahmana yang bernama Lohgawe. Karena arok kecil yang sebatang kara dan hanya punya orang tua angkat mempunyai nama asli Temu. Mulai kecil arok dititipkan pada seorang brahmana untuk menuntut ilmu, dari situ dia memperoleh banyak ilmu dan belajar kehidupan dari seorang brahmana hindu.Tanda2 kecerdasan Arok memang sudah terlihat saat menuntut ilmu,bahkan umur 20 tahun dia sudah bisa hafal kitab hindu yang dibahasakan dalam sansekerta. Dan itu pula yang membuat para brahmana menaruh harapan pada sosok pemuda ini untuk mengubah nasib Tumapel yang berada dalam cengkraman Akuwu tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Para brahmana tidak sepakat pada pemerintah saat itu karena bertindak semena-mena kepada rakyat dengan memberlakukan perbudakan dan upeti yang dikirim ke pusat kerajaan yang ada dikediri yang dipimpin oleh Raja Kretajaya. Saat itu Hindu mempunyai dualisme kepercayaan, ada yang menganut hindu wisnu yang mayoritas identik dengan pemerintah dan kekuasaan dan hindu syiwa yang yang mayoirtas para sudra dan para brahmana itu sendiri. Semasa waktu belajar, Arok dan beberapa teman2nya seperjuangan sering melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan cara merampok setiap kali ada pengiriman upeti dari tumapel ke kediri. Dan uang hasil rampokan dibagikan ke penduduk dan sebagian untuk memperkuat diri dengan membuat persenjataan. Dari kaum pemberontak ini arok dibantu oleh pejuang wanita yang bernama Umang yang notabene adalah saudara angkatnya dan kemudian jadi istri pertama Arok.

Dedes, adalah seorang brahmani dari seorang anak Brahmana Syiwa yang terkenal sangat cantik dan rupawan. Dia diculik oleh Sang akuwu tumapel dan dipaksa untuk dijadikan seorang istri.Ketertarikan Dedes pada Arok bermula saat arok bergabung dipasukan tumapel untuk menumpas para pemberontak. Dedes tahu bahwa Arok adalah orang pilihan brahmana Lohgawe dan Dedes pun membuktikan sendiri kemampuan Arok ,dia hafal kitab sansekerta dalam usia 20 tahun dan itu tidak semua brahmana bisa sampai ke level itu.

“ JAGAD PRAMUDITA’ itulah kata yang terucap Dedes saat mengetahui kemampuan Arok. Dengan sendirinya dedes menaruh rasa suka pada Arok , yang bekerja di pasukan tumapel yang punya rencana siap menggulingkan pemerintahan Tunggul ametung. Dengan kehadiran Arok pada pasukan Tumapel memberikan angin segar untuk membawa perubahan yang lebih baik pada Tumapel karena Arok adalah seorang Sudra yang berhati Brahmana dan berjiwa Satriya. Syarat itulah sangat cukup untuk membawa Arok menjadi seorang pemimpin yang diinginkan oleh rakyat Tumapel

Rencana untuk menggulingkan Tumapel dari pemerintahan Tunggul Ametung tidak datang dari Golongan Arok yang didukung oleh para Brahmana Syiwa dan rakyat jelata yang berjuang secara militant. Tapi ada golongan lain dengan kepentingan berbeda ingin menggulingkan Tunggul Ametung. Golongan ini dibawah kendali Empu Gandring dengan dukungan seorang golongan kSatriya Kebo Ijo yang memegang perwira pasukan Tumapel. Empu Gandring disini adalah seorang ahli pembuat senjata atau istilah sekarang sebagai pandai besi yang menyuplai seluruh senjata dikawasan Tumapel. Oleh Pram sosok Empu Gandring digambarkan dengan sisi yang dengan cara2 licik menggulingkan pemerintahan Tumapel. Dan rencana ini telah tercium oleh Arok dan dengan kecerdikannya Arok mengatur sebuah pemberontakan yang seolah –olah dilakukan oleh golongan Empu gandring dan Kebo Ijo itu pengertian yang ditangkap oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Dan pemberontakan Yang terjadi dapat dipadamkan oleh golongan Arok dengan membunuh Empu gandring dan pemimpin pasukan Kebo Ijo.

Tapi peristiwa itu juga menewaskan sang Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Dari buku ini Pram sama sekali tidak menyinggung mitos yang biasa terjadi di budaya jawa, sama seperti buku2 karanganya yang lain Pram meninggalkan sisi mistis atau mitos dengan gaya penyampain yang lebih bisa deterima oleh akal dan pikiran.

Diakhir cerita buku ini kematian sang Akuwu Tumapel Tunggul ametung juga masih meninggalkan misteri. Saat Menghadapi peradilan kematian Kebo Ijo masih tidak mengaku membunuh Tunggul Ametung.

Awal keluarnya buku ini sempat tidak boleh beredar karena dianggap Pram menceritakan kembali peristiwa kudeta / kup G30S. Peristiwa penggulingan kekuasaan dengan menewaskan beberapa jendral yang sampai saat ini masih simpang siur siapa yang sebenarnya dibalik peristiwa yang memilukan tersebut.

Para pembaca sekalian diberikan kebebasan untuk berfikir dan menyikapi segala peristiwa yang terjadi di Negara ini.end…..